Stunting Desa Banyuresmi Berhasil Turun 8,5 Persen

TASIKMALAYA – Angka stunting di Desa Banyuresmi, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, berhasil mengalami penurunan sebesar 8,5 persen. Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Sukahening, H. Ade Wildan, S.Kep., M.Si.

Apresiasi tersebut disampaikan H. Ade Wildan saat menjadi narasumber dalam kegiatan Musyawarah Desa Rembug Stunting Desa Banyuresmi yang digelar di Aula Desa Banyuresmi, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (26/6/2026).

Kepala UPT Puskesmas Sukahening H. Ade Wildan saat menghadiri Rembug Stunting Desa Banyuresmi
Kepala UPT Puskesmas Sukahening H. Ade Wildan saat menghadiri Rembug Stunting Desa Banyuresmi

Menurut Ade Wildan, penurunan angka stunting sebesar 8,5 persen menjadi capaian tertinggi di wilayah Kecamatan Sukahening.

“Penurunan stunting di Desa Banyuresmi mencapai 8,5 persen. Ini merupakan jumlah angka penurunan tertinggi di wilayah Kecamatan Sukahening,” ungkap H. Ade Wildan dalam arahannya.

Ia menyampaikan, keberhasilan menekan stunting membutuhkan proses yang berkelanjutan. Upaya tersebut tidak cukup hanya dilakukan setelah anak lahir, tetapi harus dimulai sejak masa remaja hingga persiapan membangun keluarga.

Ade Wildan juga menekankan pentingnya pemenuhan gizi, khususnya bagi remaja putri. Pemberian tablet tambah darah perlu didukung dengan pemahaman dan kepatuhan untuk mengonsumsinya sebagai salah satu upaya mencegah anemia.

Menurutnya, menjaga kesehatan dan kecukupan gizi remaja putri merupakan bagian penting dalam menyiapkan generasi yang sehat. Kondisi kesehatan calon ibu nantinya turut berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yang dilahirkan.

“Untuk mengisi generasi emas 2045, harus disiapkan generasi yang unggul dan sehat untuk bangsa yang maju,” ujarnya.

Ia menambahkan, pembangunan kesehatan tidak hanya berorientasi pada manusia, tetapi juga harus memperhatikan kondisi lingkungan. Lingkungan yang sehat menjadi bagian penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat dan produktif.

Baca Juga  Polisi Lakukan Penyelidikan Pemuan Kerangka Jasad Wanita di Kaki Gunung Cakrabuana

Dorong Pencegahan TBC di Masyarakat

Dalam kesempatan tersebut, H. Ade Wildan juga mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap penyakit tuberkulosis atau TBC.

Ia menjelaskan bahwa TBC merupakan penyakit menular, bukan penyakit keturunan. Karena itu, pencegahan dan pengobatan secara tepat menjadi penting untuk memutus rantai penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Program pemerintah untuk mencapai eliminasi TBC pada 2030, kata dia, membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat.

Pengobatan TBC juga harus dilakukan secara tuntas sesuai ketentuan dan pengawasan tenaga kesehatan. Hal tersebut penting agar penderita sembuh dan risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan.

Apresiasi untuk Pemerintah Desa Banyuresmi

H. Ade Wildan turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Banyuresmi, khususnya Kepala Desa Banyuresmi, yang telah memberikan perhatian terhadap program penurunan stunting.

Menurutnya, dukungan pemerintah desa melalui pengalokasian anggaran menjadi salah satu bentuk komitmen dalam memperkuat intervensi kesehatan di tingkat desa.

Sementara itu, Kepala Desa Banyuresmi, Dadan Ruswanda, mengatakan bahwa capaian penurunan stunting di desanya merupakan hasil kerja bersama berbagai unsur masyarakat.

Ia menyebut angka stunting memang belum sepenuhnya tuntas, namun Desa Banyuresmi telah berhasil meminimalisir kasus dan akan terus menjadikan penurunan stunting sebagai salah satu prioritas program desa pada tahun mendatang.

“Keberhasilan ini merupakan hasil kesepakatan dan kerja sama antara pemerintah desa, BPD, tokoh masyarakat, serta para kader Posyandu sebagai ujung tombak,” kata Dadan.

Menurut Dadan, apresiasi atas capaian tersebut menjadi motivasi tambahan bagi Pemerintah Desa Banyuresmi untuk bekerja lebih keras dalam menekan angka stunting.

Ia berharap angka stunting di Desa Banyuresmi dapat terus ditekan hingga berada pada tingkat paling minimal dan tidak lagi menjadi persoalan signifikan di masyarakat.

Baca Juga  Bhabinkamtibmas Desa Purwasari Lakukan Sambang dan Himbau Stop Tawuran

Orang Tua Diminta Perhatikan Asupan Gizi Anak

Dadan juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung berbagai program pemerintah desa dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.

Orang tua, khususnya, diminta aktif memperhatikan asupan gizi anak. Hal ini termasuk memberikan makanan bergizi serta memastikan bantuan pemenuhan gizi yang diberikan melalui program desa dapat dimanfaatkan secara optimal.

“Orang tua harus aktif memperhatikan asupan gizi anak dan berusaha membujuk anak yang sulit makan, agar bantuan gizi yang diberikan desa dapat berjalan efektif,” ujarnya.

Ia menegaskan, penanganan stunting tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Peran keluarga, kader Posyandu, tokoh masyarakat, BPD, serta seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan agar program pencegahan stunting dapat berjalan secara berkelanjutan.

Dengan kolaborasi tersebut, Pemerintah Desa Banyuresmi optimistis capaian penurunan stunting dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan demi menyiapkan generasi yang sehat, unggul, dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.

Pewarta : M. N. Fauzi

Related Posts

Bupati Bandung Luncurkan Kartu Kredit Indonesia

BANDUNG — Bupati Bandung Kang Dadang Supriatna meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) Pemerintah Kabupaten Bandung Tahun 2026 di Hotel Grand Sunshine,…

Bupati Tasikmalaya Apresiasi Pembinaan Karate BKC

TASIKMALAYA – Bupati Tasikmalaya, Dr. H. Cecep Nurul Yakin, S.Pd., M.AP., mengapresiasi konsistensi Bandung Karate Club (BKC) dalam membina generasi muda…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *